Minggu, 07 Agustus 2011 | 0 komentar

Berkenaan dengan pentingnya peran ASI didalam satu jam pertama maka dianjurkan sesegera mungkin agar meletakkan bayi yang baru dilahirkan didada ibunya dan membiarkannya untuk waktu sekitar 30 – 60 menit. Sentuhan kulit ke kulit segera setelah lahir dan menyusui sendiri setelah satu jam pertama kehidupan tersebut terasa sangat penting karena pada satu jam pertama bayi akan menemukan payudara ibunya yang merupakan awal dari suatu life sustaining breastfeeding relationship antara ibu dan bayi menyusui.
Seorang ibu tidak perlu takut kalau beranggapan bayi akan kedinginan ketika diletak di dada karena ketika bayi berada di dada ibu, dada ibu akan mentransfer kehangatan kepada sang bayi. Tetapi suhu ruangan tidak kurang dari 27o C , mereka berdua akan saling menghangatkan. Bayi akan berkurang stres, pernafasan, detak jantung lebih stabil dan lebih tenang. Bayi akan memperoleh kolostrum sebagai minuman pertamanya dan sentuhan tangan serta  mulut dan kepala bayi juga isapan pada payudara akan merangsang produksi Oxytocin. Oxytocin akan menyebabkan kontraksi rahim dan merangsang hormon lain yang menyebabkan ibu akan merasa senang dan relaks. Serta merangsang aliran ASI dalam payudara ke mulut sang bayi. Kedua-duanya akan merasakan keuntungan dengan ASI. Dan setelah sang ibu dapat memenuhi kebutuhan si bayi, sang ayah pun bisa berperan dalam membantu dalam program ASI eksklusif.

Satu Jam Pertama

| 0 komentar

Seperti kita ketahui banyaknya manfaat jika anak kita berani dan mandiri (baca di artikel sebelumnya), dan tapi bagaimana caranya agar anak berani dan mandiri? di tulisan ini kita coba membahas kiat melatih anak berani dan mandiri. Sebelumnya kita perlu memahami bahwa untuk melatih berani dan mandiri itu harus berjalan secara simultan, dan orang tua sebagai pelatih harus menyadari juga bahwa semuanya itu tidak bisa instan, memerlukan proses dan waktu. Nah apa yang harus dilakukan untuk melatih tersebut;

1. Menumbuhkan “basic trust”
Setiap bayi sebenarnya sudah memiliki basic trust, tetapi ketika dia balita sebaiknya orang tua sepatutnya memberikan respon positif atas kebutuhan si anak. Hal ini dapat meningkat perasaan “trust” dari si balita dan balita pun akan merasa aman juga didalam kehidupannya. Nah dengan perasaan aman/secure, balita pun akan lebih berani didalam menghadapi tantangan yang ada dihadapannya. Mandiri pun akan ikut terbentuk juga ketika menyelesaikan persoalannya.

2. Memberikan “tanggungjawab” atau kepercayaan kepada anak
Ketika kita melihat/merasa anak kita melakukan sesuatu yang kita rasa dia mampu melakukannya, sebaiknya kita memberi kesempatan kepada dia untuk melakukannya sendiri. Misal ketika dia selesai makan dan ingin meletakkan piringnya di tempat cucian, kita bisa memberi kesempatan itu kepada dia dan jangan melarangnya jika kita merasa dia mampu serta jangan terlalu risau juga (contoh takut pecah karena harganya mahal). Memberi kesempatan dan kepercayaan kepada dia seperti itu dapat membuat anak berani dan mandiri juga.

3. Memberi contoh
Anak akan selalu mencontoh, hal ini juga berlaku ketika kita ingin anak berani dan mandiri. Jika orang tua memiliki kepribadian yang tertutup misal tidak suka melakukan hal-hal yang baru, takut menghadapi tantangan sebaiknya tidak untuk terlalu mengharapkan balitanya tumbuh dengan memiliki kepribadian berani dan mandiri. Misal kita ingin anak belajar berenang sedangkan orang tua-nya sendiri takut masuk air, hal ini tentu akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Dengan memberi contoh yang konkret kepada anak, anak akan memahaminya dan semakin mudah dia menirunya. Namun jika orang tua tidak atau belum bisa memberi contoh yang konkret kepada anak, sebaiknya jangan menunjukkan “ketakutan” dan “ketidakmandirian” kepada si anak, baik secara langsung atau tidak langsung.

4. Jangan memaksa
Semua yang kita lakukan untuk melatih keberanian dan kemandirian anak memerlukan waktu dan proses, hal itu dapat berkembang secara perlahan sehingga jangan kita memaksa si anak untuk menguasai segala hal yang diajarkan pada saat itu juga. Misal melatih anak untuk selalu bangun tidur langsung mandi, jangan memaksa anak saat itu juga untuk menguasai hal tersebut, perlu beberapa hari hingga lancar. Orang tua selalu dampingi dan mengingatkan si anak untuk melakukan hal yang benar tersebut. Tetapi perlu diingat agar jangan terlalu sering/keras mengkritik si anak karena hal itu akan membuat nyali/keberanian si anak akan turun/down.

5. Jangan terlalu membebani
Perlu diingat bahwa tahapan yang bisa dilalui oleh si anak adalah berkembang secara bertahap, sehingga stimulus yang diberikan kepada si anak harus disesuaikan juga dengan perkembangan si anak. Jika terlalu banyak stimulus akan membuat si anak bingung dan akan kehilangan keberanian untuk melakukan sesuatu.

6. Menetapkan batasan dengan tepat
Kita tetap harus memberi batasan apa yang boleh dilakukan oleh anak kita, tetapi larang yang diberikan itu harus dapat disertai dengan alasan yang logis. Misal ketika si anak melatih keberaniannya dengan bermain di luar teras rumah, sepatutnya orang tua tidak menakut-nakuti si anak dengan hal-hal yang tidak bisa difahami/logis oleh si anak, contohnya mengatakan s anak akan diganggu hantu atau digigit anjing, dan sebagainya. Ketakutan tersebut akan ditangkap oleh otaknya sebagai kenyataan yang benar dan si anak pun akan tidak berani keluar dari teras rumahnya, akhirnya akan mempengaruhi keberanian dan kemandirian dia.

Kiat Melatih Anak Agar Berani dan Mandiri

| 0 komentar

Sebagai orang tua, tentu akan sangat senang dan bahagia ketika melihat permata hati beranjak dewasa dan melakukan hal-hal yang kreatif. Tentu kreatifitas sangat dipengaruhi dari berbagai faktor. Salah satunya dengan memberikan bahan untuk kembangkan kreativitas anak (khusus untuk balita), seperti;

Mencoret
Kegiatan mencoret-coret dengan crayon merupakan suatu kegiatan yang sangat memuaskan dan menyenangkan bagi banyak anak. Tetapi jika kegiatan tersebut tidak diarahkan malah bisa membuat kesulitan bagi kita, misal mencoret-coret tembok rumah dan sebagainya. Mari kita buatkan suatu media untuk dia dapat melakukan kegiatan tersebut dan dapat meningkatkan kreativitas anak, rekatkan kertas pada alas meja, lantai, atau alas apa saja agar kertas tidak bergeser ketika dicoreti oleh anak, dan segera singkirkan crayon ketika crayon tersebut telah disalahgunakan untuk mencoret di bagian yang tidak boleh dicoret atau bahkan jika bayi mencoba memasukkan crayon ke dalam mulutnya, hal ini dapat  membantu mengajarkan kepada mereka untuk menggunakkannya dengan benar. Perlu diperhatikan, hindarkan penggunaan pena, pensil, atau alat tulis yang berbentuk tajam untuk mencoret, kecuali dibawah pengawasan yang sangat ketat.

- Melukis dengan jari
Adakalanya si anak menyukai melukis dengan menggunakan jarinya, tetapi ada juga anak yang tidak senang dengan kegiatan ini karena tangan yang terkotori dengan cat. Meskipun dengan melakukan cuci tangan dapat menunjukkan kepada dia bahwa kotor tersebut hanya bersifat sementara, tetapi ada beberapa anak yang tetap tidak mau menggunakan bahan tersebut. Biarkan anak untuk memilih pilihannya.

- Bermain musik
Selain kegiatan-kegiatan diatas, bermain musik bisa menjadi kegiatan meningkatkan kreativitas dengan senang, bayi dapat belajar meningkatkan kemampuan musik seperti dengan memukulkan sendok kayu pada panci, atau hal-hal yang dapat menimbulkan suara tertentu, tentu saja kita harus memberi contoh terlebih dulu.

http://www.f-buzz.com/2008/12/04/bahan-untuk-kembangkan-kreativitas-anak/

Bahan Untuk Kembangkan Kreativitas Anak

 
Copyright © 2012 MIRROR | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks | Powered by Blogger