Penunggu Citarum Dayeuh Kolot.

Selasa, 10 April 2012


Ada jentik-jentik disetiap genangan air kota ini
dan matahari kala itu sudah habis
hanya hujan  menemani jalanya yang bolong
bersama aku sendirian menuju pulang
menunggangi dua buah ban kecil yang hitam
sesekali melihat kedepan, samping dan belakang
karena lampu kendaraanku mati, dan remnya hampir saja putus.
aku takut ada penunggunya yang terganggu
sebait ku ucapkan permisi, menyinggahi tanah ini...


Banjaran semakin dekat,
seperti biasa deretan tukang buah menjadi tumbal parkir yang seadanya
kejahilanku sedikit berceloteh, meragukan jajanan pinggir jalan
dingin dan lapar, ku lupakan
gairahku seketika hilang, saat sisa-sisa air banjir menempel di permukaan buah
buah itu dilapnya, dipecuti rapia dan dibuat mengkilat lagi
hari itu aku benar-benar phobia dengan kuman...
mungkin ini hanya phobiaku saja, tidak seburuk kenyataannya..


Banjaran semakin melelahkan
kedua ban kecilku terendam sebetis isya
mesin-mesin yang lebih besar pun antri
aku yang kecil menerobos dengan perih
tasbih dan istigfar, mendadak menjadi jimat penguat
aku yang tak mengira
tumpukan sampah menggenangi perjalananku pulang...


Banjaran kini menjauh
jembatan berkarat ini membuatku ikut berkarat
dibekukannya aku bersama hujan dan kesempitan ini
jembatan seolah pulau yang harus kusebrangi dengan perahu


Disampingnya...
kulihat atap-atap rumah sejajar dengan permukaan air
masjid-masjidpun hanya terlihat kubahnya saja
tak ada sejadah, tak ada mimbar ataupun seperangkat alat sholat
penunggunya menggelar tenda, tidur bersama air, hujan, dan jentik-jentik...


Dayeuh kolot,
sedikit kota tua yang punya banyak sejarah
pahlawan Toha sempat gugur ditanah ini, tanah yang punya sejarah
tanah yang pernah terjajah
dan kini tetap belum merdeka
karena dijajah banjir
banjir setinggi gunung dan banjir yang tak pernah surut

Banjir sungai Citarum selalu mengamuk dan mengusir
penunggunya yang  tulus menetap diri,
penunggunya yang mengabdi untuk mencintai setiap jengkal tanah
mencintai meski sakit, bergantung meski tak ingin
penunggu yang rela menunggu air surut
penunggu yang rela menunggu air pasang
penunggu yang rela segala-galanya
kemana lagi? adakah pilihan yang lebih baik?
tuan-tuannya bukanlah orang kaya yang serba punya
bukan pula yang serba bisa
apalagi serba mudah mendapatkan segalanya..
semua serba seadanya dan mau apa lagi?
Citarum tetap jadi berkah, meski tak pernah lepas dari musibah
Citarum tetap diterima dan dihuni...(teriaknya)

aku pun diam dan semakin merunduk
tuan-tuanya menawarkan pertanyaan sembari memangku kardus kosong, "mau nyumbang Teh???"
yang lainnya sibuk memandu jalan
"awas Teh ada lubang, lewat sini!!!"
tasbihku memang jadi penguat, tak sedikitpun ban kecilku roboh dan berhenti


Rencong, sudah didepan, barisan tuan dan nyonya singgah di tepi jalan
mengeringkan mesin-mesinnya
dan sedikit bergosip tentang Citarum, penunggunya dan Dayeuh Kolot
"besok-besok lewat Buah Batu saja Maaaangg!!!"
aku terharu, akhirnya aku bisa pulang ke rumah
dengan selamat dengan syukur luas
dibukakannya gerbang rumah oleh Bapak yang sudah dari tadi menunggu
Assalamu'alaikum....
Banjaran... aku sampai!!!
Alhamdulillah..


the true story, perjalanan pulang ke Banjaran
Kamis, 5 April 2012, jam 21.49
bersama si bleky, matick kesayanganku
by: Nurul Hidayah...

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2012 MIRROR | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks | Powered by Blogger